Home Profile Sekolah Sejarah Membangun Bangsa Membangun Manusia

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini22
mod_vvisit_counterKemarin74
mod_vvisit_counterMinggu ini22
mod_vvisit_counterBulan ini1055
mod_vvisit_counterAll386847
Membangun Bangsa Membangun Manusia PDF Print E-mail
Written by YAM   
Monday, 31 January 2011 19:55

Ir. H. Buchori Nasution

mantan Ketua Yayasan Al Muslim

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa maju mundurnya suatu bangsa bukan terlalu tergantung kepada sumber daya alamnya, tetapi sangat erat sekali dengan potensi sumber daya manusia yang dimiliki bangsa itu.

Bukan hanya kemampuan fisik dan intelektualnya tetapi juga akhlaqnya.Jumlah penduduk, luas daerah, potensi kekayaan alam, berbagai hasil tambang dan hutan, flora dan faunanya adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada Bangsa Indonesia.

Tapi apakah kita pandai mensyukuri nikmat itu?Tidak ada warisan yang lebih berarti bagi anak cucu kelak, kecuali kita dapat memberikan kepadanya pendidikan yang baik, yang kelak dapat memanfaatkan segala potensi yang Tuhan berikan demi kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara.

Melihat hal ini semua, maka dapat kita simpulkan bahwa faktor utama dalam membangun bangsa adalah "membangun manusia". Prioritas utamanya penyempurnaan akhlaq dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Last Updated on Wednesday, 16 February 2011 20:30
 
Copyright © 2018 SMA Insan Cendekia al muslim. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
 

Hadist

Website SMA Al muslim tersedia juga dalam model 2016, dengan alamat http://almuslim.sch.id/sma yang dikelola khusus oleh Tim IT.

Berita dan foto-foto kegiatan sejak Maret 2016 disajikan pada web tersebut.

 

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: Ketika turun ayat : “Mereka yang beriman dan tidak menodai (mencampuri) iman mereka dengan zhulm (aniaya), merekalah yang terjamin keamanannya, dan mereka yang mendapat petunjuk hidayat. Ayat ini benar-benar terasa berat bagi sahabat Nabi saw. sehingga mereka berkata: Ya Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah berbuat zalim (dosa)?   Jawab Nabi saw.: Bukan itu yang dimaksud, yang dimaksud ialah syirik, tidakkah kamu mendengar nasihat Luqman pada putranya:  Hai anakku jangan mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu zhulm (aniaya) yang sangat besar.  (Bukhari/Muslim).